welcome to my blog....

thank you for visiting my blog ...

narsis itu indah...

narsis itu indah...

Sabtu, 26 Desember 2009

Guru dan Semangatnya


Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan
juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan
pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan.
Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.

Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi
anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapat
menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatan
tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang Cerebral Palsy
(sindroma gangguan otak belakang).

Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelas
khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuah
kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anak
disana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anak
berusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil.

Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susun
bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakan
kepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedang
menyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik.
Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian
anak yang beradu dengan lantai.

Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihat
seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk,
duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnya
kepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugas
mereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami Cerebral
Palsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya
melonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan
kepandaiannya menyusun huruf.

Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Dia
tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantu
menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan.
Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangan
saya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa
damai dan hangat.

Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anak
disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar.
Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak mereka
tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu.
Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar.

Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah
membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing.
Dduh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya.
Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin,
membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiap
anak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan.

Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihat
mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat”
kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibanding
dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menuju
pintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya.
Ddduh, ada apa ini?

Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam,
mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambil
berkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat saya
melambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi roda
mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya.
Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuk
sekedar mencium tangan saya.

Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak ke
samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diam
saya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikat
kecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Saya
biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Bangga
kepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya.

***

Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan
yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga
pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab
mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.

Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya
kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar
pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan.
Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik
mereka.

Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar
lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar
mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang
banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita
menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?

Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru.
Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu,
dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang
berbeda disana. Cobalah. Rasakan.

Selasa, 22 Desember 2009



kasih syang bunda tak kan pernah hilang sepanjang masa.


Ibu melahirkan kita sambil menangis kesakitan. Masihkah Kita menyakiti-nya? Masih mampukah kita tertawa melihat penderitaan-nya? Mencaki maki-nya? Melawan-nya? Memukul-nya? Mengacuhkan-nya? Meninggalkan-nya? Ibu tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita waktu masih kecil, Memberikan ASI waktu kita bayi, Mencuci celana kotor kita, Menahan derita, Menggendong kita sendirian.Beliau justru rela untuk melahirkan kita.INGAT walau kita sering berbuat dosa kepada beliau,,,,beliau selalu mendoakan anak’a selamat dunia maupun akhirat maka dari itu sayangilah dan jaga lah ibu kita selayaknya beliau sayang dan menjaga kita….

Senin, 21 Desember 2009

Sudah hilangkah budaya berpikir dan bertanya di Indonesia?

Descartes pernah berkata “je pense donc je suis” atau kalau diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia, kata-kata tersebut dapat berarti, saya berpikir maka saya ada. Kata-kata tersebut mencoba untuk menjelaskan betapa pentingnya budaya berpikir dalam pembentukan karakter manusia yang seutuhnya. Kata-kata tersebut berusaha menjelaskan bahwa perbedaan yang paling mendasar antara manusia dengan binatang terletak pada kemampuan berpikir. Akan tetapi mungkinkah kita memiliki budaya berpikir tanpa memiliki budaya bertanya? Jika kita telaah buku-buku filsafat, esensi dari keberadaan kita sebgai manusia terletak pada kemampuan berpikir yang kita miliki, akan tetapi esensi dari berpikir terletak pada proses tanya-jawab. Tanya-jawab bukan hanya sekedar metode, tetapi esensi dari filsafat.

Jacques Rolland, menyatakan, latihan berpikir adalah bertanya. Bertanya menandakan seseorang sedang berpikir atau memikirkan sesuatu yang sedang menjadi persoalan dirinya. Bertanya itu berpikir. Menerima jawaban sebanyak-banyaknya itu tidak berpikir. Pikirannya hanya mencerna jawaban-jawaban dan itu hasil pertanyaan orang lain. Menimbun jawaban tidak serta-merta seseorang mampu membuat pertanyaan sebab aneka jawaban itu tak pernah ditanyakan.

Oleh berbagai pertanyaan, pengetahuan manusia berkembang, wawasan manusia diperdalam, kesadaran manusia dicerahkan dan kebudayaan tercipta, yang pada akhirnya pertanyaan memiliki peranan yang jauh lebih penting dari pada jawaban.

Manusia Indonesia lebih suka menerima jawaban daripada mengajukan pertanyaan. Jawaban, ajaran, nasihat itu yang dicari. Maka orang berduyun-duyun mendatangi guru atau yang dianggap guru, bukan untuk bertanya, tetapi untuk mendengarkan aneka jawaban yang tak pernah mereka tanyakan. Hampir semua jawaban ditelan begitu saja karena percaya hal itu mengandung kebenaran.

Sikap ini telah lama dianut manusia Indonesia. Ketika seorang guru memiliki berbagai jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan, kita menganggap jawaban tersebut sebagai sebuah kebenaran universal. Kita tak peduli bagaimana pertanyaannya dan proses dari mendapatkan jawabannya, tetapi yang penting jawabannya.

Bertanya adalah sebuah proses yang sangat individualis, dimana pertanyaan dari seseorang datang karena hasil pengamatan pribadinya, pola dan tradisi berpikir yang dimilikinya serta ruang lingkup tempat sang empunya pertanyaan tersebut berada. Artinya jika seorang guru luar negeri didatangkan ke Indonesia, boleh jadi pertanyaannya berbeda. Mereka akan bertanya, apa itu Indonesia, bagaimana terjadinya, dan mengapa Indonesia seperti Indonesia sekarang ini. Mereka bertanya makna Indonesia dan makna diri di Indonesia. Itu sebabnya setiap guru kebenaran dunia datang ke Indonesia, kita selalu bertanya apakah pertanyaan mereka tentang Indonesia dan bagaimana jawabannya. Pertanyaan pun terpaksa diimpor karena budaya kita bukan budaya bertanya, tetapi budaya jawaban.

Celakanya, tradisi kurang bertanya dan berpikir ini tampak di lembaga-lembaga pendidikan kita. Guru sebagai pemegang otoritas kebenaran tidak pernah dibantah muridnya. Jika dibuka pertanyaan, hanya satu-dua yang bertanya. Dan jawaban guru atas pertanyaan tersebut adalah jawaban yang dihafal dari buku-buku. Jika ada murid yang mencoba untuk membantah, sang guru sebagai pemegang otoritas tertinggi mulai bertindak sebagai dewa yang tidak bisa disalahkan dan menganggap murid-muridnya sebagai kerbau yang tidak tahu apa-apa.

Dalam bimbingan karya tulis, para mahasiswa paling sulit menyusun pertanyaan, padahal setiap karya tulis sebenarnya dimulai dari pertanyaan. Mereka hanya butuh jawaban-jawaban. Yang mereka ketahui adalah jawaban final. Lalu apa yang harus ditanyakan? Bukankah pertanyaan itu untuk orang bodoh, orang yang belum tahu? Jika sudah tahu, mengapa harus bertanya? Anak usia lima tahun biasanya cerewet dengan aneka pertanyaan. Apakah kawin itu Mama? Mengapa adik keluar dari perut? Mengapa burung bisa terbang? Mengapa Papa suka marah? Mengapa kita tak punya mobil, padahal Tomi punya mobil lima? Ah, dasar lu cerewet. Diam!

Itulah bencana nasional pertama. Tidak boleh bertanya. Berbagai pertanyaan harus disusun dalam proposal lebih dulu. Pertanyaan semacam itu sama sekali tidak pantas dan hanya boleh diajukan di dewan. Pertanyaan semacam itu bukan pada saya, tetapi pada pihak sana dan pihak sini. Begitu saja ditanyakan, saudara sudah tahu jawabannya! Anak yang banyak bertanya, itu tidak normal. Anak normal adalah penurut, menerima semua jawaban tanpa tanda tanya.

Bertanya bukan budaya manusia Indonesia. Menimbun jawaban sebanyak mungkin itulah budaya Indonesia. Yang boleh bertanya hanya guru besar, para pemimpin bangsa, pemegang otoritas. Bertanya itu tidak normal. Hanya mereka yang berkuasa boleh bertanya, bukan karena tidak normal, tetapi dengan bertanya, mereka menghindari pertanyaan. Atau aneka pertanyaan mereka telah ada jawabannya.

Mengapa bangsa ini lebih suka jawaban daripada pertanyaan? Hidup di Indonesia tak perlu pertanyaan. Ibarat tongkat kayu menjadi tanaman seperti dinyanyikan Koes Plus, Indonesia ini zamrud khatulistiwa, gemah ripah loh jinawi, penghasil tanaman rempah-rempah yang tak harus dijadikan industri. Lempar saja batang cengkeh, akan tumbuh sendiri. Lalu, untuk apa bertanya? Untuk apa berpikir?

tugas buat pasal 4


Gagasan Paskibraka lahir pada tahun 1946, pada saat ibukota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar, untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta. Pada saat itulah, di benak Mutahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa.

Tetapi, karena gagasan itu tidak mungkin terlaksana, maka Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra dan 2 putri) yang berasal dari berbagai daerah dan kebertulan sedang berada di Yogyakarta. Lima orang tersebut melambangkan Pancasila. Sejak itu, sampai tahun 1949, pengibaran bendera di Yogyakarta tetap dilaksanakan dengan cara yang sama.

Ketika Ibukota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran bendera pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka dilaksanakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966. Selama periode itu, para pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.

Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil presiden saat itu, Suharto, untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, beliau kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu:

* Kelompok 17 / pengiring (pemandu),
* Kelompok 8 / pembawa (inti),
* Kelompok 45 / pengawal.

Jumlah tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka. Rencana semula, untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI) namun tidak dapat dilaksanakan. Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, marinir, dan Brimob) juga tidak mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi karena mereka bertugas di Istana Negara Jakarta.

Mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah para pemuda utusan provinsi. Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh ex-anggota pasukan tahun 1967.

Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Suharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia. Bendera duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan. Mulai tahun 1969 itu, anggota pengibar bendera pusaka adalah para remaja siswa SLTA se-tanah air Indonesia yang merupakan utusan dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja.

Istilah yang digunakan dari tahun 1967 sampai tahun 1972 masih "Pasukan Pengerek Bendera Pusaka". Baru pada tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan PASKIBRAKA. PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan KA berarti PusaKA. Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut Paskibraka.

Minggu, 20 Desember 2009

aku sempat termenung sejenak,melihat wajah ku di hadapan cermin...
tak terasa kini aku sudah bertambah dewasa,berarti beban ku akan bertambah banyak,tapi aku harus tetap tegar menjalani hari2 yang ku lalui.
ketika dengan seksama kupandangi wajah ku yg lusuh aku terbayang wajah ibu ku,ibu yang telah meninggalkan ku 3 tahun yang lalu,ibu yang benar2 bertanggung jawab,ibu yang selalu menyemangati ku saat aku putus asa,ibu yang selalu pontang -panting memeras keringat untuk membiayai aku sekolah dan ibu yang sangat sempurna di mata ku,sungguh aku menyesal sekali ketika di akhir hidup nya aku tidak ada di samping beliau,sungguh penyesalan yang amat terdalam.
seandai nya waktu dapat ku putar kembali,aku pasti akan berusaha membahagiakan ibu ku se maksimal mungkin dan apa bila ibu ku melihat aku sekarang pasti beliau terseyum melihat sang buah hati nya sudah mandiri,bisa bekerja dan melanjutkan pendidikan nya dengan biaya sendiri,aku yakin ibu ku pasti bangga melihat ku walau pun harapan ibu ku belum bisa ku penuhi, yaitu ibu ku sangat berharap setelah aku lulus dari sma nanti menjadi seorang tentara nasional indonesia.
ibu ku sangat ingin sekali aku menjadi seorang prajurit tni mungkin karena ayah ku dulu seorang TNI dan kedua kakek ku juga seorang purna wiraan TNI yang membuat ibu ku berharap aku menjadi seorang abdi negara itu.
maaf kan aku ibu,aku belum bisa mewujud kan keinginan mu,tetapi aku yakin di kemudian hari aku akan menjadi orang yang sukses,yang mungkin akan mengangkat derajat kehormatan sang ayah dan ibu.amiin


-ibu-

bila ku ingat masa kecil ku, ku selalu menyusahkan mu
bila ku ingat masa kanak ku, ku slalu mengecewakan mu
banyak sekali pengorbana mu yang kau berikan kepadaku
tanpa letih dan tanpa pamrih kau berikan semua itu.
engkau lah yang ku kasihi engkaulah yang ku rindu
ku harap selalu doa mu dari diri mu ya ibu
tanpa doa mu takkan ku capai tanpa restumu tak kan ku raih
segala cita yang ku ingin kan dri diri mu ya ibuu.


(seorang anak yang sedang rindu akan kasih sayang sang ibunda)
goresan pena menari nari di atas kanvas,seolah seakan membuat sketsa lukisan yang indah, akan tetapi goresan itu semakin hancur dan hancur,entah mengapa apa yang terjadi?

Jumat, 18 Desember 2009

boy and girl

di suatu hari ada sebuah cerita tentang boy dan girl....
boy dan girl adalah sepasang kekasih,boy sangat mencintai girl wlalwpun kedua mata girl tidak bisa
melihat indah nya dunia ini ,tetapi kasih syang boy kpada girl tdak pernah berkurang setiap waktunya,begitu pula girl yg mencintai boy sampai pada suatu saat girl bertanya kepada boy...
girl : boy apakah benar engkau mencintai diriku meskipun aku buta?....
boy : iya aku sangat mencintai mu girl...
girl : seandai nya aku bsa melihat pasti aku akan menikah dengan mu...
boy : semua sudah di atur oleh tuhan,mungkin ini adalah jalan nya,tapi aku yakin suatu saat
km pasti bs melihat dunia ini beserta isi nya,tentunya kamu bs melihat aku...
girl : terima kasih boy...aku berjanji boy aku akan menikah dengan mu...
boy : (tersenyum dgn senang...)
suatu hari girl dinyatakan bs melihat oleh dokter,stelah ada yang mendonorkan mata nya kepada girl.Lalu girl dengan perasaan nya yang benar-benar tidak pernah terbayang bisa melihat indah nya dunia tersenyum dengan riang dan penuh tawa.
"akhir nya aku bisa melihat dunia ini beserta isi nya terima kasih tuhan terima kasiiiiiiiiiiiiih(betapa sngat senang nya girl samapai menitik kan air mata nya)
tiba-tiba girl teringat oleh boy kekasih nya yang selalu setia pada diri nya,,,,
booooooooooy dmn kamuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu....(teriak girl sambil menitikkan air mata bahagia)
"aaaku disini girl sapa boy dengan nada perlahan...
"boy ini engkau yg selalu menemaniku pada saat aku buta??(tersentak kaget melihat boy duduk di kusi roda dengan mata tertutup)
"iya girl ini aku boy....
lalu terjadi percakapan antara boy dan girl...
girl : ti ti tidak mungkin boy,ini bukan boy yang aku kenal,boy yg aku kenal tidak buta....
boy : loh ini aku girl,yg slalu menemani mu saat engkau kesepian,,sungguh girl aku ini
kekasih mu.bagai mana girl apakah kita jadi menikah?
girl : tidak,kita tidak akan menikah...
boy : kenapa girl?engkau telah berjanji kepada ku mau menikah dengan ku ketika kedua mata
mu bisa melihat.
girl : iya,memang aku berjanji tpi tidak menikah dengan orang BUTA...
boy : kau sungguh tega terhadap ku girl,dulu pada saat kau buta betapa sabar nya aku
menemani mu,tapi sekarang,apakah kau lupa dengan janji-janji dan kenangan manis
yang pernah kita lalui?
girl : tapi boy aku tidak bisa menikah dengan orang buta,tidak bisaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...
boy : baik lah girl tidak apa-apa,jgn lah kau fikirkan.semoga kau bisa menemukan pendamping
mu yg lebih baik dari aku,aku bahagia sekarang kamu bisa melihat,selamat tinggal girl.....
"lalu boy pergi meninggalkan girl yg di bantu oleh sahabat boy....
hari demi hari berlalu,terdengar lah kabar sampai kepada girl bahwa boy bunuh diri dan menitip kan sepucuk surat untuk girl..


"teruntuk kekasih ku girl maaf kan aku,aku harus meninggalkan dunia ini karena aku merasa dunia ini tidak adil untuk ku,aku berharap ada seseorang yang sayang kepada mu seperti aku yang sangat mencintai mu sampai nyawa ini telah hilang dari raga ku.aku bahagia jika melihat kamu bahagia,walaupun kita tidak bisa menikah tapi aku cukup bahagia karena kamu sudah bisa melihat,semoga kedua mata ku tidak menjadi sia-sia untuk mu...
selamat tnggal girl,selamat tinggal dunia yang indah.


-boy-
tersentak girl kaget membaca surat yang ditulis oleh boy,dia baru tahu bahw yang mendonorkan matanya adalah boy kekasih nya yang snagt mencintai nya....



-END-

Kamis, 08 Oktober 2009

oke

lucuu

lucuu